Tuesday, August 26, 2008
Akibat Berbuat Maksiat
Perbuatan Maksiat Dalam Al-Qur'an Allah swt berfirman yang artinya : "Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada ku" (QS.51:56) Disana Allah swt menegaskan kepada manusia, bahwa maksud dari penciptaan manusia dan jin adalah hanya untuk beribadah kepada Allah swt, lain tidak. Dalam rangka menunaikan tugas ibadah tersebut, manusia diperintahkan untuk taat dan tunduk kepada semua perintah Allah swt, baik yang langsung Allah swt firmankan dalam Al-Qur'an, maupun yang disampaikan melalui sabda Rasulullah saw.
Oleh sebab itulah di dunia ini hanya terdapat 2 golongan manusia. Golongan pertama adalah mereka yang selalu taat pada segala perintah Allah swt dan sunnah Rasulullah saw. Sedangkan golongan kedua adalah mereka yang ingkar kepada 2 hal tersebut. Perbuatan ingkar itulah yang disebut dengan maksiat dan setiap perbuatan maksiat itu adalah dosa.
Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziah mengatakan, bahwa orang-orang bodoh mengandalkan rahmat dan ampunan Allah swt sehingga mereka mengabaikan perintah dan larangan-Nya serta lupa dengan azab-Nya yang pedih dan tak mungkin dicegah. Barangsiapa yang mengandalkan ampunanNya tetapi tetap berbuat dosa, dia sama dengan orang-orang yang membangkang.
Nasib Para Pelaku Maksiat
Al-Qur'an telah banyak menceritakan berbagai kejadian dan bahaya yang ditimbulkan dari perbuatan maksiat. Cerita tersebut bukanlah sesuatu yang dibuat-buat atau lamunan, apalagi cerita bohong untuk sekedar menakut-nakuti manusia, namun ia benar-benar terjadi dan menjadi tragedi bagi umat manusia.
Diantaranya adalah banjir besar yang mencapai puncak gunung pada masa nabi Nuh as yang menjadikan penghuni bumi karam tenggelam, angin puting beliung yang berhembus keras membanting kaum ‘Ad hingga semua mati bagaikan pelepah kurma yang berguguran, guntur dahsyat yang mematikan kaum Tsamud, hujan batu di negri Sodom pada kaum nabi Luth yang membinasakan semua penghuninya, awan azab berupa mega naungan yang ketika turun bagaikan api yang membakar kaum Syu'aib, tenggelamnya Fir'aun dan kaumnya di sungai Nil, pekik keras yang menghancurkan orang-orang yang digambarkan dalam surat Yasin.
Sekali lagi, semua kisah tersebut benar terjadi. Dan penyebab turunnya azab Allah swt tersebut tidak lain adalah perbuatan dosa dan maksiat sehingga semua menjadi pelajaran bagi umat manusia hingga hari kiamat. Dalam hadits riwayat Ibnu Majah Rasulullah saw bersabda : "Wahai segenap Muhajirin, ada lima hal yang membuat aku berlindung kepada Allah swt dan aku berharap kalian tidak mendapatkannya. Pertama, tidaklah perbuatan zina tampak pada suatu kaum sehingga mereka akan tertimpa bencana wabah dan penyakit yang tidak pernah ditimpakan kepada orang-orang sebelum mereka. Kedua, tidaklah suatu kaum mengurangi takaran dan timbangan melainkan mereka akan tertimpa paceklik, masalah ekonomi dan kedurjanaan penguasa. Ketiga, tidaklah suatu kaum menolak membayar zakat melainkan mereka akam mengalami kemarau panjang. Sekiranya tidak karena binatang, niscaya mereka tidak akan diberi hujan. Keempat, tidaklah suatu kaum melakukan tipuan (ingkar janji) melainkan akan Allah swt utus kepada mereka musuh yang akan mengambil sebagian yang mereka miliki. Kelima, tidaklah para imam (pemimpin) mereka meninggalkan (tidak mengamalkan Al-Qur'an) melainkan akan Allah swt jadikan permusuhan antar mereka."
Rasulullah saw juga bersabda : "Jika engkau dapati Allah Azza wa Jalla memberikan limpahan kekayaan kepada seorang hamba padahal hamba itu tetap berada di dalam kemaksiatan, maka tak lain hal itu merupakan penundaan tindakan dari Nya" (HR Ahmad)
Selanjutnya beliau (Rasulullah saw) membaca ayat yang artinya : „Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa." (QS Al-An'aam : 44)
Imam Ahmad meriwayatkan, Abi Rafi' bercerita bahwa Rasulullah saw pernah melewati pekuburan Baqi. Lalu beliau berkata, "Kotorlah engkau, cis ... !" Aku menyangka kiranya beliau maksudkan diriku. Beliau bertutur, „Tidak, cuma inilah kuburan si fulan yang pernah kuutus untuk memungut zakat pada bani fulan lalu dia mencuri baju wol dan kini dia sedang dipakaikan baju yang serupa dari api neraka.
Dalam shahih Muslim dikatakan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda : "Penduduk yang di dunia begelimang kesenangan sementara dia itu termasuk ahli neraka dihadirkan pada hari kiamat untuk kemudian dicelup dengan celupan neraka. Kemudian kepada mereka dikatakan, „Hai ibnu Adam, adakah kau lihat kebaikan ?" Dia menjawab, "Wallahi, tidak ya Rabbi !" Dan manusia yang di dunia paling sengsara hidupnya sementara dia itu calon penghuni surga akan dicelup dengan celupan surga. Lalu kepada mereka akan dikatakan, "Hai ibnu Adam, adakah kau peroleh kesengsaraan? Adakah kau temui kegetiran?" Dia menjawab, "Tidak, demi Allah ya Rabbi, tidak kudapati sama sekali.""
Sedangkan dalam shahih Muslim Rasulullah saw pernah bersabda tentang 3 golongan manusia yang pertama diadili di hari akhir. Golongan pertama adalah mereka yang mati syahid. Diantara mereka wajahnya tersungkur dan diseret ke neraka karena ternyata perang yang telah dilakukannya semata-mata hanya agar disebut pahlawan. Golongan kedua adalah orang yang sering membaca Al-Qur'an, rajin menuntut ilmu dan senantiasa mengamalkan pengetahuannya. Namun ternyata mereka juga tersungkur dan diseret ke dalam nereka. Mengapa ? Karena ternyata mereka hanya ingin mendapat gelar sebagai orang alim dan pintar. Golongan ketiga adalah seorang laki-laki yang seluruh kekayaannya dia korbankan. Tetapi nasibnya sama dengan kedua golongan sebelumya, ia tersungkur dan diseret ke neraka, karena ia melakukan itu agar dikatakan dermawan.
Masih banyak ayat-ayat Al-Qur'an maupun sabda Rasul yang menggambarkan akan bencana apa yang dialami oleh orang yang berbuat maksiat. Namun cukuplah kiranya beberapa ayat, hadits dan kisah diatas menjadi pelajaran bagi kita untuk bisa diambil hikmah dan membuat kita lari dari perbuatan maksiat.
Thursday, August 21, 2008
Renungkan sebelum bermaksiat
Ada seorang laki-laki mendatangi Ibrahim bin Adham, ia berkata, “Wahai Imam, saya ingin bertaubat dan meninggalkan seluruh dosa yang saya miliki. Jika suatu saat saya kembali melakukannya, tunjukkanlah padaku terapi yang dapat menghindarkan aku bermaksiat kepada Allah.”
Apakah Anda ingin seperti itu? Siapakah di antara kita yang tidak menginginkan bertaubat kepada Allah dan membuang seluruh dosa sejauh-jauhnya? Perhatikan dan camkanlah nasihat Ibrahim bin Adham secara sungguh-sungguh!
Ibrahim bin Adham berkata, “Jika Anda ingin bermaksiat kepada Allah, maka jangan melakukannya di atas bumi-Nya!” Maka laki-laki itu bertanya, “Dimanakah saya dapat bermaksiat terhadap-Nya?” “Di luar bumi-Nya.” Jawab Ibrahim bin Adham. “Wahai imam, bagaimana hal itu dapat terjadi, sedangkan bola bumi ini dalam genggaman-Nya?” Tanya lelaki tersebut. “Tidakkah malu bahwa bola bumi dalam genggaman-Nya?” Jawab Ibnu Adham.
Kemudian Ibrahim bin Adham berkata, “Jika Anda ingin bermaksiat kepada-Nya, maka janganlah engkau memakan rezeki-Nya!”
Lalu, lelaki itu bertanya, “Maka, bagaimanakah saya dapat hidup?” Ibrahim berkata, “Tidakkah Anda malu memakan rezeki-Nya sedangkan Anda bermaksiat kepada Allah?” Kemudian Ibrahim melanjutkan perkataannya, “Jika Anda bersikeras bermaksiat kepada Allah, maka bermaksiatlah di suatu tempat yang Ia tidak melihatmu!”
Laki-laki itu bertanya, “Bagaimana bisa seperti itu, sedangkan Ia selalu bersama kita, di manapun kita berada?” Ibrahim bin Adham menjawab, “Tidakkah Anda malu bermaksiat kepadanya sedangkan Dia lebih dekat denganmu?”
Jika Anda tetap bersikeras bermaksiat kepada Allah, maka jika malaikat maut datang untuk mencabut nyawamu, katakanlah kepadanya, “Tunggulah sebentar sampai aku bertaubat!” kata Ibrahim bin Adham. “Lantas, siapa yang memiliki kekuasaan menunda kematian seperti itu?” tanya lelaki itu.
Ibrahim berkata, “Tidakkah engkau malu, saat datang malaikat maut sedangkan engkau dalam keadaan bermaksiat?”
Kemudian ia melanjutkan perkataannya, “Jika Anda engggan menghentikan perbuatan maksiat kepada Allah, tiba-tiba datang para malaikat Zabaniah Jahannam menyeret Anda masuk neraka, maka katakan kepada mereka, bahwa Anda tidak ingin pergi bersama mereka!”
“Bagaimana mungkin, saya bisa seperti itu?” tanya laki-laki tersebut.
Akhirnya Ibrahim bin Adham mengakhiri nasihatnya dengan mengatakan, “Tidakkah Anda malu kepada Allah setelah mengetahui seluruh penjelasan ini!”
Sekarang, bacalah sekali lagi dan gantilah laki-laki tersebut dengan nama Anda... ya Anda sendiri. Setelah Anda selesai membacanya, lontarkanlah satu soal kepada diri Anda, “Tidakkah aku malu kepada Allah SWT?”
Lihatlah pada kasih sayang Allah dan malulah kepada-Nya. Tidakkah Anda malu setelah penjelasan ini, jika Anda tetap bersikeras bermaksiat kepada Allah SWT maka masih ada satu lagi, lihatlah pada rahmat Allah yang diberikan untuk Anda agar mempunyai rasa malu dan lihat pula akan curahan kasih sayang-Nya dan suka cita-Nya kepada siri Anda.
Semulia Akhlak Nabi - Amru Khalid
Posted by Abu Luthfi on Aug 20, '08 6:36 PM for group islammenjawab
Thursday, July 3, 2008
Kematian adalah hadiah yang sangat berharga...??
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran (3): 185)
Rasulullah SAW bersabda, “Kematian adalah hadiah yang sangat berharga bagi orang yang beriman.” (HR. Hakim dan Thabrani) Ini beliau katakana karena “dunia adalah penjara bagi orang yang beriman,” (HR. Muslim) yang dia terus-menerus berada dalam situasi dan kondisi sulit yang akan menyiksa jiwanya, dan juga karena perjuangannya maupun penolakanya terhadap hawa nafsunya sendiri. Baginya, kematian adalah keterbebasan dari siksaan ini dan hal ini menjadi “hadiah yang tak ternilai”.
Tuesday, July 1, 2008
Kenapa kita masih mengerjakan ma’siat?? (3)
" Sukar meninggalkan kesedapan dan keinginan dan ubatnya bahawa berfikir ia bhawasnya jika doktor yg kafir menyebut baginya akan air sejuk pantang bagi penyakitnya dan boleh memberi mudharat oleh air sejuk itu akan dia nescaya meninggalkan ia akan air sejuk itu, sekalipun bersangatan ingin ia kepadanya. maka hendaklah mengetahui ia akan bahawasanya Allah taala dan RasulNya lebih benar dari doktor itu. Dan siksa api neraka lebih pedih daripada mudharat kesakitan yang disebabkan air sejuk itu. Dan menetapkan ia dalam hatinya akan bahawasanya apabila sukar atasnya meninggalkan kesedapan dan keinginan pada masa yang sedikit, maka betapa tiada sukar atasnya menanggung siksa api neraka dan atas luputnya nikmat syurga?"
Musannif membawa analogi, bagi urusan dunia contohnya sakit kita sanggup berpantang dengan meninggalkan keni'matan makan minum dsbg bagi mengelakkan penyakit yang bakal diterima dan kita amat yakin dengan doktor yang merawat kita sedangkan urusan akhirat kita tidak yakin dengan pesanan Rasulullah agar meninggalkan perkara maksiat yang mana kita akan mendapatkan implikasi yang teramat berat, iaitu siksaan api neraka..
Firman Allah "dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka. Mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan. Dan mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari neraka itu. Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? (Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah. surah infithar 14-19..
dalam ayat lain " Sesungguhnya neraka Jahannam itu (padanya) ada tempat pengintai. lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas, mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya, mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, selain air yang mendidih dan nanah, sebagai pambalasan yang setimpal." surah Naba' 21-26.
Oleh itu marilah kita meninggalkan kesedapan yang sementara ini (maksiat), Moga kita terlepas dari siksaan api neraka dan dikurniakan Allah nikmat syurga... Amin
Thursday, June 26, 2008
Malam PerTaMa..
Satu hal sebagai bahan renungan kita...
Untuk merenungkan indahnya malam pertama..uhu
Tapi bukan malam penuh kenikmatan duniawiah semata..
Bukan malam pertama masuk ke kisah Adam dan Hawa..
Justeru malam pertama 'perkawinan' kita dengan Sang Maut
Sebuah malam yang meninggalkan isak tangis sanak saudara
Hari itu...
mempelai sangat dimanjakan
Mandipun...harus dimandikan
Seluruh badan kita terbuka....
Tak ada sehelai benang pun menutupinya..
Tak ada sedikitpun rasa malu...
Seluruh badan digosok dan dibersihkan
Kotoran dari lubang hidung dan anus dikeluarkan..
Bahkan lubang ? lubang itupun ditutupi kapas putih...
Itulah diri kita....
Itulah jasad kita waktu itu
Setelah dimandikan...,
Kitapun akan dipakaikan gaun yang cantik berwarna putih
Kain itu ...
jarang orang memakainya..
Karena barang ini sangat terkenal
iaitu 'Kafan'
Wangian ditaburkan ke baju kita...
Dibahagian kepala..,badan..., dan kaki diikatkan
Tataplah....tataplah...
itulah wajah kita
Keranda pelaminan...
langsung disiapkan
Pengantin bersanding sendirian...
Mempelai di arak keliling kampung bertandukan tetangga
Menuju istana keabadian sebagai simbol asal usul kita
Diiringi langkah perlahan seluruh keluarga
Serta rasa haru para handai taulan
Gamelan syahdu bersyairkan adzan dan kalimah kudus
Akad nikahnya bacaan talkin...
Berwalikan liang lahat..
Saksi - saksinya nisan-nisan..
yang tlah tiba duluan
adalah
Siraman air mawar..
pengantar akhir kerinduan dan akhirnya.....
Tiba masa pengantin..
Menunggu dan ditinggal sendirian...
Untuk mempertanggungjawabkan seluruh langkah kehidupan
Malam pertama bersama 'kekasih'..
Ditemani rayap - rayap dan cacing tanah
Di kamar bertilamkan tanah..
Dan ketika 7 langkah telah pergi....
Kitapun akan ditanyai oleh sang Malaikat...
Kita tak tahu apakah akan memperoleh Nikmat Kubur...
Ataukah kita
Kita tak tahu...dan
tak seorangpun yang tahu....
Tapi anehnya kita tak pernah rasa ketakutan....
Padahal nikmat atau siksa yang akan kita terima..
Kita pasti menitiskan air mata...
Seolah barang berharga yang sangat mahal...
Inilah masa menunggu sebelum tibanya hari akhir dari segala-galanya..
Akankah sejak malam ini kita menunggu untuk ke surga atau ke neraka..
Mungkin tak pantas kita rasanya menjadi ahli syurga...
Tapi....tapi ....
sanggupkah kita menjadi ahli neraka...
Wahai Sahabat...
ku mohon maaf...
jika malam itu aku tak menemanimu
Bukan aku tak setia...
Bukan aku berkhianat....
Tapi itulah komitmen azali tentang hidup dan kehidupan
Rasa sayangku padamu lebih dari apa yang kau duga..
Wednesday, June 25, 2008
MENJAGA PANDANGAN MATA ADALAH KEBAHAGIAN
Jika seseorang mampu menahan kelazatan penglihatan dan memenjarakan syawatnya hanya kerana ALLAH yang di situ merupakan letaknya kebahagiaan nafsu yang sentiasa menyuruh kejahatan, nescaya ALLAH akan menggantikannya dengan kebahagiaan dan kenikmatan yang lebih sempurna. Perlu diketahui bahawa kenikmatan sifat iffah ( pengekangan hawa nafsu ) melebihi kenikmatan dosa.
-copy internet-
Tuesday, June 17, 2008
Tazkirah: Kelebihan mengingati mati
Assalamualaikum dan salam persaudaraan,
Setiap makhluk yang hidup pasti akan mati, sesungguhnya kematian tetap akan menjemput insan untuk kembali kepada penciptanya. Sekuat manapun kita lari, sejauh manapun kita cuba hindari, namun kematian akan tetap mengekori kita.
Sampai waktu dan ketikanya, kita tetap akan pergi jua. Betapa kerapnya malaikat maut melihat dan merenung wajah seseorang, iaitu dalam masa 24 jam sebanyak 70 kali, andainya manusia sedar hakikat tersebut, nescaya dia tidak akan lalai mengingati mati. Tetapi oleh kerana malaikat maut adalah makhluk ghaib, manusia tidak dapat melihat kehadirannya. Sebab itu manusia tidak menyedari apa yang dilakukan oleh Malaikat Izrail.
Sebenarnya manusia itu sedar bahawa setiap makhluk yang hidup pasti akan mati, tetapi manusia menilai kematian dengan berbagai tanggapan. Ada yang menganggap kematian itu adalah suatu tabii biasa sebagai pendapat golongan atheist, dan tidak kurang pula orang yang mengaitkan kematian itu dengan sebab-sebabnya yang zahir sahaja.
Dia mengambil logik bahawa banyak kematian disebabkan oleh sesuatu tragedi, seperti diakibatkan oleh peperangan, bencana alam dan lain-lain lagi. Tidak ramai manusia yang mengaitkan kematian itu dengan kehadiran malaikat maut yang datang tepat pada saat ajal seseorang sudah sampai, sedangkan malaikat maut sentiasa berlegar di sekeliling manusia, mengenal pasti dan memerhatikan orang-orang yang tempoh hayatnya sudah tamat.
Tepat pada waktu
Sesungguhnya malaikat maut menjalankan arahan Allah SWT dengan tepat dan sempurna, dia tidak diutus hanya untuk mencabut roh orang sakit sahaja, ataupun roh orang yang mendapat kecelakaan dan malapetaka. Jika Allah menetapkan kematian seseorang ketika berlaku kemalangan, atau ketika diserang sakit tenat, maka Izrail mencabut roh orang itu ketika kejadian tersebut. Namun ajal tidak mengenal orang yang sihat, ataupun orang-orang mewah, yang sedang hidup rehat dibuat kesenangan.
Malaikat maut datang tepat pada waktunya, tanpa mengira orang itu sedang ketawa riang, atau sedang mengerang kesakitan. Bila ajal mereka sudah tiba, maka kematiannya tidak tertangguh walau sesaatpun.
Walau bagaimanapun ada ketikanya Allah jadikan pelbagai sebab bagi sesuatu kematian, yang demikian itu ada hikmah di sebaliknya. Misalnya sakit tenat yang ditanggung berbulan-bulan oleh seseorang, ia akan menjadi Rahmat bagi orang beriman dan sabar, kerana Allah memberi peluang dan menyedarkan manusia agar dia mengingati mati, untuk itu dia menggunakan masa atau usia yang ada untuk berbuat sesuatu, membetulkan dan bertaubat dari dosa dan kesilapan serta memperbaiki amalan untuk menambah bekalan untuk akhirat, jangan sampai menjadi seorang yang muflis di akhirat kelak. Begitu juga orang yang mati mengejut disebabkan kemalangan, ia menjadi pengajaran dan memberi peringatan kepada orang yang masih hidup supaya mereka sentiasa waspada dan tidak lalai dari usaha memperbaiki diri, menambah amal kebajikan dan meninggalkan segala kejahatan.
Di kalangan orang soleh, sakit yang ditimpakan kepada dirinya adalah sebagai tanda bahawa Allah masih menyayanginya. Kerana betapa malangnya bagi pandangan orang-orang soleh itu jika Allah mengambil roh dengan tiba-tiba, tanpa sebarang amaran terlebih dahulu. Seolah-olah Allah sedang murka terhadap dirinya, sebab itulah Allah tidak beri amaran terlebih dahulu kepadanya. Keadaan orang itu ibarat seperti tidak menyedari adanya bahaya di hadapannya, jika tiada amaran terlebih dahulu, nescaya dia akan terjerumus ke lembah bahaya.
Malaikat maut mengadu kepada Allah, betapa dirinya tidak disenangi oleh keturunan Adam, dia mungkin dicemuh kerana dia ditugaskan mencabut roh manusia, yang akan menyebabkan orang berdukacita kerana kehilangan keluarga, sanak-saudara dan orang-orang yang tersayang di kalangan mereka. Diriwayatkan bahawa Allah SWT berjanji akan menjadikan berbagai sebab kepada kematian yang akan dilalui oleh keturunan Adam, sehingga keturunan Adam itu akan memikirkan dan mengaitkan kematian itu dengan sebab-sebab yang dialami oleh mereka.
Ajal ketetapan Allah SWT
Apabila berlaku kematian, mereka akan berkata bahawa si anu itu mati kerana menghidap sakit, ataupun mereka kerana mendapat kemalangan, mereka akan terlupa mengaitkan malaikat maut dengan kematian yang berlaku itu. Namun hakikatnya bahawa ajal itu adalah ketetapan Allah, yang telah termaktub sejak azali lagi. Semuanya telah nyata di dalam takdir Allah, bahawa kematian pasti tiba pada saat yang telah ditetapkan. Izrail hanyalah tentera Allah yang menjalankan tugas seperti yang telah diamanahkan kepadanya. Walau bagaimanapun adalah menjadi hak Allah untuk menentukan kematian seseorang itu sama ada bersebab atau tidak. Sebagaimana yang dinyatakan pada awal tulisan ini, bahawa ada ketikanya malaikat maut datang hendak mencabut roh seseorang, tetapi manusia yang dikunjungi malaikat maut sedang dalam keadaan seronok bergelak ketawa, hingga malaikat maut merasa hairan terhadap manusia itu.
Ini membuktikan bahawa kematian itu tidak pernah mengenal, sama ada seseorang yang sedang sakit ataupun ketika sihat dan segar bugar. Firman Allah SWT yang bermaksud, "Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu (ajal), maka apabila telah datang waktunya (ajalnya) mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) mencepatkannya. " (Surah Al-A'raaf, ayat 34).
Semoga kita semua tergolong dalam golongan orang yang mendapat perlindungan- Nya selalu. Amin.
Sumber: Mohd Huzairi Zainuddin, Perunding Motivasi

